Salam kenal buat kawan terhebat, "Hanya seseorang yang mengabdikan dirinya untuk suatu alasan dengan seluruh kekuatan dan jiwanya yang bisa menjadi seorang guru sejati. Dengan alasan ini penguasaan menuntut semuanya dari seseorang." -Albert Einsten-
Teruntuk
kamu yang diberi kepercayaan Tuhan menjaga tulang rusuk
Halo?
Hai? Apa kabar? Sudah makan? Sedang apa?
Aku
mengirimkanmu selembar surat, bukan sekedar surat protes atau surat izin jatuh
cinta yang sudah dibicarakan beberapa orang di waktu-waktu lalu. Aku menulis
untuk memastikan kau baik-baik saja dan jangan bilang jika kau sedang duduk
melamun dengan jarum infus yang menancap di pergelangan tanganmu atau kau
sedang terkapar di ranjang bersprei putih lalu menungguku datang untuk
menjenguk. Saya mohon, jagalah dirimu baik-baik sebab aku tak bisa menjagamu
lebih dekat lagi. Aku mungkin tak punya bahasa awalan percakapan yang cukup
membuatmu tertarik. Iya kamu, kamu yang entah ada di belahan bumi sebelah mana,
berbangsa apa, berapa tingginya, termasuk kedalam ras dan rumpun apa pula.
Tuhan belum mempertemukan kita atau mungkin pernah mempertemukan kita, kita
yang sudah pernah bersama lalu terpisah, tak sengaja tertubruk di stasiun, sudah
pernah saling suka lantas menjadi mantan, saling berpapasan di lobi sekolah,
sama-sama di halte menunggu hujan reda, saling membenci satu sama lain, pernah
bertemu di seminar, sama-sama menjadi suporter komunitas, tak sengaja saling
chat di media sosial atau malah kita sudah akrab satu sama lain lantas kita
tidak pernah tau jika nama kita berdua yang tercatat di daftar nama pasangan
pada jurnal Tuhan yang sudah digariskan di langit-langit Langit sana. Kenapa
saya justru ingin sekali menulis surat ini untuk orang yang sama sekali belum
saya kenal? Sebab saya seperti ingin berbicara sebelum kita disatukan. Mungkin
kita akan saling memaki jika berada di dimensi ketika kita dipersatukan,
“Kau
kemana saja, aku sudah lama mencarimu jodohku?”, “Aku sudah hampir bosan
menunggu kau yang tak kunjung datang”,”Aku tak lelah mencarimu, sedang kau Cuma
duduk menungguku datang”,”Kau tak tau ya, aku sudah menjaga diriku baik-baik
lantas kau datang dengan apa-apa yang pernah berbaik-baik dengan orang”, atau
perbincangan makian yang terlintas seperti saling benci namun suatu percakapan
dimana kita berdua saling melepas penat sebelum dipertemukan dalam sepekat
cahaya yang hendak kita patikan. Bagaimana jika suatu saat Tuhan memberi kita
waktu yang terlalu lama untuk meyakini jika itu kita. Atau ketika kau sudah
terlalu putus asa untuk menemukanku, atau malah aku yang menunduk kelelahan
dalam penantian. Percayalah, masa depan kita masih terlalu cerah untuk sekedar
memilih untuk bersama. Mapankan dirimu dulu, akupun juga belajar menjadi
pendamping yang kan kau panggil sayangku. Cukup ini dulu, aku hanya takut jika
optimisku terlalu dasyat untuk mendapat surat balasan darimu. Jaga diri
baik-baik. Sekian.
menunggumu selayak menunggu tidak pastinya hujan reda.
Aku juga pencinta cinta. Sama seperti ketika aku melihatmu dari kejauhan, meranggas tepian lubang bagian atas kemejaku, memerasnya tanpa hanti pertanda sakit hati. Lalu apa artinya semua ini? Semua yang pernah kita lalui, bukan ... bukan ... bukan ... nyatanya bukan kita, tapi cuma aku cintaku dengan ragamu tanpa peluhmu. Lalu bagaimana kalau saja aku mulai candu, aku pun pergi ketika kau bercerita tentang sebagaimana kau ingin mengeja. Aku takut jika aku benar-benar telah mencinta, meski aku kira bahwa rasaku sudah kadaluarsa. Aku mengingatmu dengan amat sangat detail, setiap abjad menitih baik-baik, pelan menyayat penuh lenyap. Aku bermain air, pura-pura tertawa dibawah guyuran hujan -bersamamu kala itu. Bukan tertawa karna aku bahagia, tapi berusaha menyamarkan airmataku yang sama sama derasnya dengan bilangan milyaran air hujan yang menetes satu-satu. Takut kehilangan suasana seperti itu? dan nyatanya ketakutanku terjadi juga. Lupa bagaimana rasanya ketika dulu kau mengejar lalu ku hempaskan, sekarang aku yang menoleh kebelakang tapi kau cepat-cepat menghempaskan. Bukankah cintamu cuma sekedar merantaui masa yang belum pernah kau pijak. Namamu sudah tercatat di sini, di ruang bernomor inisial perjumpaan kita. Jika pun kau berkata, bertanya, bergurau penuh makna, tentang kemantapan hatiku. sedang aku menggeleng, aku menggeleng bukan karna aku tak mau, aku menggeleng karna aku ingin kau menyakinkanku. Bukan justru kau be
Tahukah
bagaimana caranya menutupi rasa sakit ketika yang menjadi penyebab bertanya
kamu kenapa???
Aku semakin merunduk dalam,
membiarkan kain putih tetap menjalar menutupi sebagian dari mukaku, hanya bisa
mengelak tanpa landasan. Bahkan aku tak bisa menatap pandanganmu pagi ini.
Bukan karena tak mau, tapi tak terlalu mampu melihat sorot matamu namun bukan bayangku
yang terpantul di sana. Masih terpaku dengan berpura-pura tidak perduli,
bagaimana mungkin kau bisa menganggapku baik-baik saja. Aku sakit, aku sakit,
amat sakit. Harusnya kau sudah peka, kau sudah mengeja dengan sangat sempurna.
Berdiri disampingku ketika aku terhenyak semakin menghindarimu, aku merindumu
tanpa ada kamu ditempat itu. Tapi untuk apa merindu kalau saja tidak untuk
dibalas, kau tak pantas membalas. Kaku setiap ada kata-kata membahana pada
akunmu, aku benci untuk mengakui jika aku cemburu. Sungguh, pertahanan yang
dalam waktu singkat mampu roboh. Mau bersandar pada siapa lagi? Kalau saja,
teman yang seharusnya menjadi penegar malah berubah menjadi malaikat pembunuh
perasaan dalam sekejap. Menemui luka lagi ketika mereka- mereka yang ku sebut
sebagai teman seolah memutar balikan aku yang semakin rapuh. Aku harus menangis
dan mengadu kepada siapa? Siapa lagi? Bahkan tiga seperempat alasan aku
menangis itu karna pertahanan yang jebol oleh ulah temanku, dan selebihnya
karena kamu. Kau mungkin tak pernah merasa bagaimana sulitnya, berdecak dalam
diam ketika aku melihatmu dari kejauhan. Mungkin kau tidak tahu kalau saja,
waktu yang tersisa ingin ku lukis kenangan yang tak terlupakan. Tapi untuk
menatapmu pun aku semakin terluka, kau harusnya sadar… aku tidak baik-baik
saja. Aku terperdaya dalam kisahmu, jangan seret aku lagi dalam ceritamu. Apa yang
ingin kau dapatkan dariku? Kau sudah punya dia yang amat menyukaimu. Apakah
luka yang ingin kau torehkan? Kau bahkan sudah berhasil merobek semuanya. Air
mataku yang kau mau? Bahkan tiap kali ku tahan airmata kalau saja kutemui
mesramu untuk dirinya. Aku masih tahu diri, masih tahu dimana batas diagonal
ketika kita tidak bisa bersama. Aku mengerti. Bagaimana mungkin aku bisa cepat
melupa kalau saja kita sering dipertemukan. Bagaimana bisa seolah tidak perduli
kalau saja kau begitu berarti. Bagaimana bisa berpura-pura baik kalau saja
jarak kita terlalu dekat, bahkan kalaupun bisa memilih. Aku lebih memilih untuk
berpisah denganmusekarang dan tidak aka nada pertemuan lagi.
Yang
salah itu kenapa kita dipertemukan, yang salah itu kenapa aku dibiarkan tidak
sadar. Yang salah itu kenapa aku dengan begitu bodohnya menangisi hal yang
nyata-nyata sia-sia. Dan yang terbodoh itu aku. Aku Karena kau biang keladinya. @that
seperti bersinar dalam kegelapan! redup menggelayut