Part Test of Life
Salam kenal buat kawan terhebat,
"Hanya seseorang yang mengabdikan dirinya untuk suatu alasan dengan seluruh kekuatan dan jiwanya yang bisa menjadi seorang guru sejati. Dengan alasan ini penguasaan menuntut semuanya dari seseorang."
-Albert Einsten-
:Untuk Sukap
Awan
bergemuruh memberi marah
Seorang
lelaki berkicau pada camar
“Langit,
jangan sedih.”
Senja
menggiring pertanda tiada teduh
Seorang
perempuan melolong pada kegelapan
“Cakrawala,
jangan kesepian.”
Tiada
yang lebih hebat dari setangkai daun
Yang
kokoh diterpa angin
Yang
tangguh menolak gugur
Yang
perkasa diterpa kemarau
Sedang
diri ialah tempat berpijak
Mendamba
jatuh engkau lalu cekat ku peluk erat
Di
tepi akar, ditepi bebatuan, dan di permukaan kulit-kulit pepohonan
Ku
cipta siasat, barangkali ketika fajar tiba
Kau
diam-diam merambat jatuh
Hingga
memeluk tubuh sebelum bangun
Surat Untuk Februari :
Ketika kau membaca surat ini, saya pastikan, saya sedang diantara adzan isya dan iqomah, waktu pengabulan doa, masa yang paling mujarab. Jadi, luangkan waktumu sebentar untuk membacanya sedang sebenarnya selama ini saya selalu sibuk menimbang dan mendoakan pertemuan. Setiap pagi selalu saya selangkan waktu sekedar menabur harap, maafkan jika kelak ada seorang laki-laki yang datang menemuimu karena lakuku, karena usahaku menjaga diri adalah dengan tidak membiarkan laki-laki seenaknya mencampuri hidup. Mas, engkau tidak sedang ada diantara mereka kan? Sungguh sulit menjadi perempuan, saya kadang lelah menjadi tegar, atau kadang saya malu perihal diri yang belum kunjung diberi yang terpatri. Saya kadang terlena, ketika sangat lelah, pada akhirnya saya telah menaruh sandaran kepada ia yang selalu membersamai saya, maafkan mas, kalau sebelum bertemu engkau, saya pernah berbagi rasa kepada seorang yang lain.
.
.
Tidakkah bisa engkau sesegera mungkin karena fajar hampir datang, lalu berdua kita jalani segalanya bersama, sampai senja, hingga kita direnggut tua dan kembali kepada yang maha memiliki. Pada suatu hari saya pernah membayangkan, betapa megahnya bahagia mendampingi seorang yang petualang, penyayang, cerdas, dan baik lalu kita jelajahi cita dan mimpi mengelilingi berbagai negara. Betapa beruntungnya bersama orang yang lemah kikirnya, pandai lakunya, baik tuturnya, dan gemarnya ia membaca buku-buku serta piawai atau mendengarkan ia membaca puisi ketika di tempat tidur, membacakan dongeng kepada anak sebelum malam dan lain sebagainya. Saya takut ditipu oleh yang bukan engkau, yang saya temani lalu pergi entah, saya takut ditipu oleh yang bukan kamu, yang saya kira adalah terakhir namun kemudian berakhir sia-sia. Bagaimana, apakah kita masih sama-sama sibuk memperbaiki diri dan iman? Agar seyogyanya di masa berikutnya kita mahir mengisi dan menegarkan. Mas, beri saya isyarat, beri saya pembeda, beri saya tanda agar mengenali dalam temu yang entah kapan terjadi. Semoga sesegera mungkin.
.
.
.
#SuratUntukFebruari
#LetterOfFebruary
#PecintaBuku
#PecanduBuku
#TMOL2016
#SayembaraMenulis

Amarta,
19 Juli 2015
Surat terbuka
Kepada
Dewi Sinta
Terkasih
Dewi, betapa namamu selalu memenuhi lubuk,
bersangkar di pelupuk nadi, semerbak seperti ribuan untai mawar yang pernah aku
kirimkan kepadamu. Aku masih ingat harumnya seperti pesonamu yang terngiang seluruhnya
setiap aku membuka mata. Kalau kau memintaku meruntuhkan langit dan menjunjung tinggikan
bumi Dewi, atas nama kasihku padamu, aku akan menyegerakannya. Aku bisa melakukan
apapun atas kehendakmu Dewi. Dewi,
serupa namaku Rahwananya yang lakunya seperti buta raksasa seperti ini nan buruk
rupa dan tindaknya, aku memiliki kasih yang barangkali jika ditimbang akan jauh
lebih berbobot ketimbang kasih milik Rama. Tapi engkau tetap memilih Rama, aku tidak
apa-apa Dewi, aku hanya meratapi kasih yang selama ini aku bangun bertubi-tubi memuja
engkau. Rasa-rasanya aku ingin bersedih Dewi, aku seperti marah kepada diriku sendiri
yang bisa melakukan apapun, kecuali merubah wujudku menjadi tampan agar engkau jatuh
hati padaku. Dewi, seperti inikah nasib seseorang yang
tidak rupawan? Yang kemudian kasihnya dinomorduakan. Aku bisa saja membunuh
Rama agar engkau tidak hidup bersama dengannya, tapi aku tahu diri Dewi, bahwa bagaimana
pun aku sudah mengupayakan engkau, engkau tidak akan pernah sudi bersanding
dengan diriku, kau hanya akan menjadikan aku pilihan yang bermilyar-milyar
kali, sedangkan engkau selalu menjadikan Rama sebagai keharusan. Dewi, apakah kasih
yang seperti ini adil? Apakah buta raksasa sepertiku tidak pantas memiliki kasih
sebesar jagad raya yang ingin aku persembahkan hanya kepada engkau? Dewi,
apakah engkau sudah merasa adil? Berbahagialah engkau Dewi memilih kasih yang
lebih tampan.
Salam,
Rahwana